.::Manfaatkan cara mudah menjadi pengusaha travel Umrah dan Haji Plus dengan menjadi Perwakilan Arminareka Perdana. "Gratis Web seperti ini, jika mendaftar di Rumah Haji dan Umrah. Hubungi Mukhamad Arifin 0857 4786 1798 / 021 9423 1362::. .::Mau Umrah & Haji Plus Gratis? Ikuti Presentasinya setiap Sabtu Pukul 10.00 WIB bertempat di Ruang Seminar Kanz Lt. 7 Gedung Menara Salemba. Jl. Salemba Raya No.5 Jakarta Pusat::.

REPUBLIKA.CO.ID- Pada saat melempar jumrah, hendaklah seorang hujjaj meniatkannya sebagai wujud kepatuhan mutlak kepada perintah Allah SWT, dengan menampakkan penghambaan diri sepenuhnya, dan melaksanakannya semata-mata demi ketaatan kepada-Nya, tanpa keikutsertaan akal dan perasaan hati di dalamnya.
Selain itu, niatkan juga untuk mengikuti sunnah Nabi Ibrahim AS. Saat iblis tampil di hadapannya di tempat itu, dan berusaha memasukkan keraguan dalam hati Ibrahim tentang hajinya, atau mendorongnya untuk membangkang terhadap Tuhannya.
Maka Allah SWT memerintahkannya agar melempari iblis dengan batu-batu, demi mengusirnya dan memupuskan harapannya. Dan sekiranya terlintas dalam pikiran bahwa setan memang menampakkan dirinya di hadapan Ibrahim AS pada waktu itu, sehingga ia sempat melemparinya.
”Setan tak mungkin menampakkan diri dihadapanku,” begitu mungkin yang terlintas dalam hati Nabi Ibrahim AS. Ketahuilah, bahwa pikiran seperti itu, pasti berasal dari setan juga. Iblislah yang menghunjamkannya ke dalam hati agar niat untuk melempar jumrah melemah.
Terbayang dalam diri Ibrahim AS bahwa perbuatan melempar itu adalah sesuatu yang tak ada faedahnya, tak ubahnya seperti mainan belaka. ”Untuk apa kiranya aku menyibukkan diri dengannya?” begitu mungkin yang dibisikkan ke dalam hati .
Seorang hujjaj membuang jauh-jauh pikiran seperti itu. Ia harus bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam melakukan pelemparan jumrah demi menghinakan setan terkutuk.
Ketahuilah, secara lahiriah  memang melemparkan batu-batu ke arah jumrah, namun pada hakikatnya, melempari wajah setan dengannya dan mematahkan tulang punggungnya. Sebab, takkan tercapai upaya menghinakannya kecuali dengan ketaatan melaksanakan perintah Allah SWT. Semata-mata karena hal itu adalah perintah-Nya, tanpa keikut­sertaan akal maupun perasaan hati di dalamnya. (Sumber: Rahasia Haji dan Umrah oleh Abu Hamid Al-Ghazali)

Leave a Reply